Lagi
Saat perasaan itu muncul kembali
Pada akhirnya hilang lagi
Sulit menutupnya sempurna
Bermakna ambigu apakah aku ingin menjaga atau menghapus perasaan itu
Selalu saja
Mungkin karena kolotnya diriku yang selalu berpikir dengan memakai logika, sehingga jawaban yang kutemukan adalah jawaban kaku hasil dari pembuktian nalar secara sistematik
Atau justru aku terlalu membuka diriku, terlalu besikap baik, sebagai pandangan baruku setelah gelapku, padahal menurut batasanku lebih mudah utuk menutup diriku dan aku masih saja merasa nyaman terhadap hal itu
Mungkin juga karena aku terlalu malas memikirkan apa yang ada di depanku itu
Mencerna sistematika masalah di depan mataku.
Dengan perasaan, hati atau entah apa namanya
Karena alasan idealku yang konservatif, ‘ Nanti ada waktunya
Nanti.
Batasan tak tentu untuk sebuah parameter waktu.
Tandanya wajar bila kau juga pernah merasakan itu’ kata mereka
Perasaan asing dan kompleks yang memicu sistem endokrinku meningkat aktivitasnya.
Atau malah endokrinku yang memicu munculnya perasaan itu sebagai tanggapan atas rangsang yang kutangkap melalui inderaku.
Aa.. terserah
Mungkin memang karena malasnya diriku.
Nanti juga ada waktunya.
Kesimpulan yang aku ambil dari apa yang aku tuliskan ini.
Di malam hujan, di depan mataku.