Sesuatu dari jenuhnya memori di otak ku muncul kembali belum lama ini
Sesuatu yang menguras space memori cukup banyak untuk memikirkannya
Aku nggak percaya kalo aku dulu sempat mempunyainya di suatu bagian di dalam diriku
Pada dasarnya untuk menghadapi masalah seperti ini aku tidak mempunyai alat yang pas untuk men-decode-nya
Cuma logika lugu seorang Hanif Tri Febiawan yang kupakai.
Orang bilang ga semua bisa menggunakan perasaannya untuk ‘berpikir’ memecahkan persoalan yang satu ini
Romance? Yah bisa dibilang kayak beginu eh begitu
Disiplinku aku sama sekali ga peduli ma hal-hal tersebut (kalo ngomong nya ga peduli kayaknya ga tepat, lebih pas kalo ga tau ato belum tau lah minimalnya)
Konservatif.
Paradigma yang kupakai untuk menghadapi persoalan-persoalan yang menurut hematku ga masuk dalam kategori urgent.
Sekalian bisa konservasi energi gitu (mention Oreki Houtarou)
Sekian. Akhir dari apa yang aku tulis kan di kamar kost baru di malam ini.